Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 29 Agustus 2025

TITIK TIGA

hutan ditebang
katanya bangsa ini butuh tambang
pajak dinaikan 
katanya demi kesejahteraan 

pendidikan dipermainkan
katanya guru adalah beban
agama diperjual-belikan 
katanya demi kemaslahatan
pedagang asongan dilarang berjualan
katanya mereka mencari keuntungan 

tikus-tikus berhamburan
katanya demi keadilan
anjing-anjing diturunkan
katanya demi keamanan

bukankah lebih baik dibubarkan? 
INI DEMI PERSATUAN!!!
bukankah lebih baik dibubarkan?
INI DEMI KEUTUHAN!! 

CAMKAN!! 


~Goestav. Emdiansyah

Jumat, 24 Desember 2021

TERSERAH KAU SAJALAH!

Ahhh kawann... 
Dunia ini mulai membosankan
Manusia tak punya lagi banyak perbedaan
Manusia sekarang mungkin hanya ada dua macam
Yang mengalah dan yang tak mau mengalah 

Yang benar ya mengalah
Yang salah ya tak mau mengalah 
Tak ada lagi manusia yang memilih mengalah karna salah
Dan tak ada lagi manusia yang memilih tak mau mengalah karna benar

"Kau itu jangan sok pintar deh, dasar otak udang " Begitu mereka menyebutku
"Bukannya otak udang lebih baik daripada bangkai binatang " Balasku
"Terserah kau sajalah"Mereka malah Tertawa lantang melihat tingkahku yang sok pintar. 

Aku berpikir.... 
Ternyata majas tak berpengaruh bagi orang berjas
Ah tidak juga, bukanya orang biasa juga tak suka dengan majas
Bagaimana kalau sindiran keras ?
Percuma juga... 
Mungkin hati mereka sudah mulai  mengeras 

Aku masih berpikir keras 
Apa yang membuat dunia ini membosankan 
Apa ada hal yang aku lewatkan?
Atau mungkin aku yang ketinggalan zaman? 
Semua orang sudah sampai pada akhir zaman, sedangkan aku masih bertahan di pertengahan zaman
Atau...
aku yang memang otak udang?

Akh... TERSERAH KAU SAJALAH! 

~Goestav emdiansyah~





Jumat, 30 Juli 2021

halu

aku terbuai dengan parasmu,
dengan kelakuanmu yang selalu muncul dalam beranda media sosialku.
sampai-sampai kau membuatku rindu,
dan kau membuatku candu dengan semua kelakuanmu
aku tahu kau tak pernah memikirkanku
bahkan berpikir bahwa aku adalah belahan jiwamu
sereceh itukah perasaanku ?
hanya dengan melihat postingan diakun media sosialmu,
aku jatuh cinta kepadamu.

~Goestav. Emdiansyah~



Salah Pemerintah

Bangun siang, salah pemerintah
Tidur pagi, salah pemerintah 
Semua salah pemerintah
Ternyata salah yang merintah

Lowongan kerja sedikit, salah pemerintah
Pengangguran, salah pemerintah
Semua salah pemerintah
Pemerintah segala perintah

Unjuk rasa dimana-dimana,
Koruptor keluar masuk penjara,
Peraturan hanya terlihat sebelah mata, 
ITU JELAS SALAH PEMERINTAH!!! 

Rakyat jelata menjadi tempat asuransi jiwa bagi orang-orang kaya
Semaunya... 
Mereka yang berkuasa
SALAH SAPA LAGI? 
YA PEMERINTAH!! 

Mencintai insan, salah pemerintah
Patah hati, salah pemerintah
Semua salah pemerintah
Titik


~Goestav emdiansyah



Senin, 14 September 2020

Katanya Beda, ternyata sama



Aku begini
Kamu ikut begini,
Dia juga begini,
Akhirnya mereka juga ikut-ikut begini

Aku begitu
Kamu ikut begitu,
Dia juga begitu,
Akhirnya mereka juga ikut-ikut begitu

katanya beda,
Tapi ternyata sama.

Mereka saja begitu
Dia saja begitu
Kamu saja begitu
Masak aku begini

Mereka saja begini
Dia saja begini
Kamu saja begini
Masak aku begitu

Katanya beda, 
Tapi ternyata sama.

Jangan begitu, itu salah.
Yang bener itu begini.
Jangan begini, itu salah.
Yang bener itu begitu.

Masa bodoh!
Aku berbeda!


~Goestav. Emdiansyah


















Minggu, 02 Agustus 2020

Republik Janji

Kami adalah penjual janji
Realisasi silakan negosiasi
Persetan dengan kitab suci
materai hanyalah sebagai formalitas agar dapat dipercayai  

Jabatan yang tinggi
Kamu yang ingin kumiliki
Harta yang katanya hanya mimpi
Semua luluh dengan iming-iming janji

Kami adalah pegumbar janji
kami hanyalah mencari kepuasan diri
Dan untuk hati yang tersakiti
Siapa yang peduli ?!

~Goestav. Emdiansyah

Jumat, 31 Juli 2020

Semoga Hari ini

Aku berserah diri kepada malam yang sunyi
Dan tuhan yang maha membolak-balikkan hati
Semoga Engkau dapat mendengarkan keresahan yang telah mati karena kebisingan yang tak henti-henti

Aku berserah diri kepada datangnya mentari
Dan tuhan yang maha suci
Semoga segala kehadiran 
tak beresiko menyakiti hati

Aku berserah diri kepada panasnya mentari
Dan tuhan yang maha mengawasi
Semoga hati ini dapat memilih
Antara mencintai atau membenci

Aku berserah diri kepada hilangnya mentari
Dan Tuhan yang maha mengasihi
Semoga segala yang terjadi
dapat kurelakan pergi

~Goestav. Emdiansyah





Rabu, 01 Juli 2020

Asmaraloka #1

mencintai akan membuatmu memiliki banyak janji
mencintai juga mempunyai visi dan misi
sayangnya didalam mencintai kau tak akan berkoalisi
mencintai adalah sebuah definisi yang hanya bisa kau ciptakan sendiri

tak sedikit sebuah kisah yang dibangun dengan alur sama memiliki akhir yang sama 
ketika kau bangun alurnya dengan begitu indahnya, akhirnya akan menjadi duka 
sebaliknya ketika kau bangun alurnya dengan buruknya, akhirnya akan menjadi bahagia 
tak akan ada yang mengerti akhir dari sebuah kisah cinta 

~goestav emdiansyah 


Jumat, 05 Juni 2020

Antara Kopi, Cinta, dan Rindu




kopi itu cinta
dan cinta itu adalah rasa
didalam kopi ada candu 
didalam cinta ada rindu 

ketika secangkir kopi kuseduh  
aku semakin candu untuk mencintai dan merindukanmu
dan ketika kumulai mencumbu cangkir itu
aku merasakan kamu berada disisiku

ku halau nafsuku untuk menghabiskan seduhan kopi itu
karena aku ingin berlama-lama denganmu
mungkin terlihat halu
namun, itulah obat untuk membalas rindu karena lama tak bertemu

kopi, cinta, dan rindu
akan selalu mewakilkan sebuah perasaan tentang kamu
tentang cerita cinta yang selalu halu
dan tentang sebuah keresahan yang selalu membuatku candu

~Goestav. Emdiansyah



Senin, 01 Juni 2020

Luka


aku selalu menanamkan mawar pada setiap pandanganku padamu kasih 
tanpa aku sadar bahwa mawar memiliki duri yang siap untuk melukai. 
mungkinkah mawar yang kutanam juga melukaiku kasih?
atau mungkin aku yang terlena akan keindahan mawar ini ?

mawar yang kutanam mulai menunjukkan warnanya
merah merona bagai warna pipimu yang tersipu malu
merah bagai darah yang mengalir mengairi tangkai yang dipenuhi duri
dan aku masih tak merasakan luka, 
 
semakin hari yang kurasakan bahagia 
tanpa memikirkan luka 
hingga pada suatu saat luka itu ada
darah yang mengalir semakin terasa dan nyata 

aku mulai tak merasakan keindahanya 
semakin aku mencari keindahan itu semakin dalam duri itu menancapkan lukanya 
luka yang dulunya maya sekarang menjadi nyata 
air mata yang mengalir berubah menjadi aliran darah

siksaan dan tangisan kali ini bersatu padu untuk menghancurkan
menghancurkan pandanganku tentang keindahan 
penyesalan datang untuk menjadi klimaks dari kehancuran  
dan kesadaran datang untuk menjadikan sebuah pengalaman 

~Goestav. Emdiansyah